UMKM Kopi Kojal binaan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kalimantan Barat kembali menorehkan prestasi di ajang promosi perdagangan kopi internasional World of Coffee Bangkok 2026 yang berlangsung pada 7–9 Mei 2026 di BITEC Bangkok, Thailand.
Dalam ajang kopi terbesar se-Asia tersebut, Kopi Liberika asal Kabupaten Kayong Utara berhasil menarik perhatian buyer dan pengunjung mancanegara. Bahkan, kopi Liberika premium produksi UMKM Kopi Kojal sukses menembus harga jual 35 USD per kilogram atau sekitar Rp595 ribu per kilogram.
Prestasi ini melanjutkan keberhasilan UMKM Kopi Kojal yang sebelumnya juga terpilih mengikuti World of Coffee Jakarta 2025 setelah lolos kurasi ketat Bank Indonesia. Pada tahun 2025, kopi Liberika Kayong Utara memperoleh nilai cupping 84,42 untuk proses Semi Wash dan 83,50 untuk proses Natural Dry berdasarkan pengujian Coffee Lab 5758 selaku konsultan kurasi yang ditunjuk Bank Indonesia.
Pada tahun 2026, kualitas kopi Liberika Kayong Utara kembali meningkat dengan nilai cupping mencapai 85,58 serta karakter rasa frizzy, grape, dan mollase. Hasil tersebut menjadikan UMKM Kopi Kojal kembali masuk dalam jajaran 20 kopi terbaik Indonesia binaan Bank Indonesia dan menjadi kopi dengan nilai tertinggi dari seluruh wilayah Kalimantan.
Keberhasilan tersebut mengantarkan UMKM Kopi Kojal menjadi delegasi Indonesia pada World of Coffee Bangkok 2026 yang difasilitasi langsung oleh Bank Indonesia.
Selama pelaksanaan pameran, UMKM Kopi Kojal berhasil memperoleh Letter of Intent (LoI) dari sejumlah buyer internasional asal Singapura, Dubai, Thailand, dan Swedia, serta buyer nasional seperti Anomali Coffee, Tanamera Coffee, Espresso Embassy Coffee Roaster, dan Akasa Coffee Bali.
Potensi transaksi yang berhasil dihimpun diperkirakan mencapai 2,5 hingga 3 ton per tahun dengan nilai sekitar 84.875 USD atau setara Rp1,4 hingga Rp1,7 miliar per tahun.
Owner UMKM Kopi Kojal, Gusti Iwan Darmawan, mengatakan tingginya minat pasar terhadap Kopi Liberika Kayong Utara menjadi motivasi besar untuk terus meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi bersama petani binaan.
Menurutnya, respon pengunjung selama pameran sangat luar biasa. Bahkan peserta dari negara penghasil Liberika seperti Malaysia dan Filipina memberikan apresiasi terhadap cita rasa kopi Liberika Kayong Utara yang dinilai memiliki karakter lebih menyenangkan.
“Bahkan ada pengunjung dari Filipina yang tertarik meminta pelatihan dan sharing knowledge terkait proses pasca panen yang kami lakukan,” ungkapnya.Saat ini, kopi Liberika binaan UMKM Kopi Kojal di Kabupaten Kayong Utara masih tersebar di lahan sekitar 7 hektare dengan populasi sekitar 700 pohon per hektare. Potensi produksi diperkirakan mencapai 14,7 ton greenbeans per tahun, namun setelah proses sortir ketat hanya sekitar 4,41 ton yang masuk kategori Grade 1 Premium.
Keberhasilan ini tidak lepas dari riset panjang yang dilakukan UMKM Kopi Kojal sejak tahun 2019 hingga 2025 dalam mengembangkan protokol pasca panen kopi Liberika dengan target menghasilkan karakter cita rasa yang lebih menyenangkan dan mudah diterapkan oleh petani.
Ke depan, UMKM Kopi Kojal bersama kelompok tani binaan di Kayong Utara dan Kabupaten Melawi berkomitmen mempersiapkan kopi Liberika terbaik Kalimantan Barat untuk kembali mengikuti kurasi kopi binaan Bank Indonesia tahun 2027 dengan target tampil pada World of Coffee Tokyo 2027 di Jepang. (**)

