Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, dr. H. Harisson, M.Kes., secara resmi membuka Ceremony RABBANI KHATULISTIWA 2026 yang ditandai dengan penekanan sirine di Aula Keriang Bandong Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Kamis (18/6/2026).
Kegiatan hasil kolaborasi Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat tersebut mengusung tema “Penguatan Rantai Nilai Halal dan Halal Lifestyle untuk Kemandirian Pesantren dan Umat Kalimantan Barat.” Tema ini menegaskan pentingnya membangun ekosistem ekonomi syariah yang terintegrasi, mulai dari sektor produksi, akses pembiayaan, pemasaran, hingga pengembangan gaya hidup halal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Acara tersebut turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat Doni Septadijaya, Kepala OJK Kalbar, pimpinan lembaga keuangan, Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), Forum SIAR Kalbar, serta para pelaku UMKM.
Dalam sambutannya, Harisson menyampaikan bahwa perekonomian Kalimantan Barat tetap menunjukkan kinerja yang positif di tengah tantangan ekonomi global. Pada tahun 2025, ekonomi Kalbar tumbuh 5,39 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4,90 persen dan menjadi salah satu yang tertinggi di Pulau Kalimantan.
“Pada triwulan I tahun 2026, ekonomi Kalbar tumbuh 6,14 persen secara tahunan. Ini menunjukkan bahwa proses pemulihan dan ekspansi ekonomi daerah terus berjalan dengan baik,” ujarnya.
Menurut Harisson, pertumbuhan tersebut didukung oleh peran UMKM dan semakin berkembangnya aktivitas ekonomi berbasis syariah. Saat ini Kalbar memiliki sekitar 338 ribu UMKM dan lebih dari 5.100 pelaku usaha halal yang menjadi modal penting dalam memperkuat daya saing ekonomi daerah.
Ia menegaskan bahwa RABBANI KHATULISTIWA 2026 menjadi momentum strategis untuk memperkuat rantai nilai halal (halal value chain) sekaligus mendorong tumbuhnya gaya hidup halal (halal lifestyle) di Kalimantan Barat.
“Potensi ekonomi syariah Kalbar sangat besar. Karena itu perlu terus diperkuat melalui pengembangan rantai nilai halal, peningkatan kapasitas UMKM, serta penguatan peran pesantren sebagai penggerak kemandirian ekonomi umat,” katanya.
Lebih lanjut, Harisson menyoroti tiga fokus utama pengembangan ekonomi syariah di Kalbar, yakni penguatan rantai nilai halal, penguatan keuangan dan sosial syariah, serta peningkatan literasi dan inklusi ekonomi syariah. Ketiga aspek tersebut dinilai harus berjalan seiring agar manfaat ekonomi syariah dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, lanjutnya, berkomitmen menjadikan ekonomi syariah sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kami berharap sinergi seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat untuk membangun ekosistem halal, memperluas akses pembiayaan dan pasar, serta mendorong UMKM, pelaku usaha syariah, dan pesantren agar semakin produktif dan berdaya saing,” tuturnya.
Harisson juga menyebut penyelenggaraan RABBANI KHATULISTIWA 2026 menjadi bagian dari upaya meningkatkan prestasi Kalimantan Barat pada ajang Anugerah Adinata Syariah 2027.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya, mengatakan Indonesia memiliki peluang besar dalam industri halal global. Dengan nilai konsumsi produk halal yang mencapai lebih dari Rp3.197 triliun, Indonesia tidak hanya berpotensi menjadi pasar terbesar, tetapi juga produsen utama produk halal dunia.
Menurutnya, Kalimantan Barat memiliki peluang besar mendukung pengembangan ekonomi syariah nasional melalui penguatan produk halal, pengembangan modest fashion, serta perluasan rantai nilai halal berbasis potensi daerah.
“UMKM harus masuk ke dalam rantai nilai halal agar mampu naik kelas dan berkembang secara berkelanjutan,” ungkap Doni.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan RABBANI KHATULISTIWA 2026 telah berlangsung sejak 9 hingga 20 Juni 2026 dengan berbagai agenda, seperti Syariah Fair, Syariah Forum, coaching clinic, dan Syariah Championship.
Melalui kegiatan tersebut, ditargetkan realisasi pembiayaan sebesar Rp4,2 miliar dan penjualan produk UMKM mencapai Rp2,65 miliar.
“RABBANI KHATULISTIWA diharapkan mampu menjadi katalis pengembangan ekonomi syariah sekaligus mendorong lahirnya sumber pertumbuhan ekonomi baru di Kalimantan Barat,” pungkasnya. (wnd/ica) (Adpim Prov Kalbar)

