Ratusan Peserta Terlibat, Pontianak Jadi Daerah Ketiga di Indonesia Terapkan Penaburan Eco Enzyme

Pemerintah Kota Pontianak menggelar aksi penaburan eco enzyme di sepanjang parit Jalan Alianyang hingga Jalan Pangeran Natakusuma sepanjang 2,1 kilometer dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Jumat (26/6/2026). Kegiatan ini melibatkan sekitar 200 peserta yang terdiri dari ASN, pelajar, komunitas lingkungan, dan masyarakat.

Setiap peserta membawa satu botol eco enzyme untuk dituangkan ke parit, sementara enam unit kendaraan pemadam kebakaran yang telah diisi cairan eco enzyme turut melakukan penyemprotan di sepanjang jalur kegiatan.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian bersama dalam menjaga kebersihan lingkungan, khususnya jaringan parit yang menjadi ciri khas Kota Pontianak sekaligus bagian penting dari sistem drainase kota.

Menurutnya, pencemaran akibat sampah dan limbah rumah tangga maupun usaha telah menurunkan kualitas air, memicu bau tidak sedap, meningkatkan risiko genangan, serta berdampak pada kesehatan masyarakat.

"Eko enzyme merupakan hasil fermentasi limbah organik rumah tangga yang memiliki banyak manfaat bagi lingkungan. Selain membantu memperbaiki kualitas air dan mengurangi bau, pemanfaatannya juga menjadi solusi pengelolaan sampah organik agar lebih bernilai," ujar Edi.

Ia menegaskan, pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga. Pemerintah Kota Pontianak pun terus mendorong berbagai program lingkungan, seperti pengurangan sampah dari sumbernya, penguatan bank sampah, penambahan ruang terbuka hijau, serta edukasi kepada masyarakat dan pelajar.

Edi berharap momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia mampu mendorong tumbuhnya budaya menjaga kebersihan lingkungan melalui tindakan nyata.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak Syarif Usmulyono menjelaskan, penggunaan eco enzyme dipilih sebagai solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk membantu memperbaiki kualitas air parit yang mulai tercemar.

Menurutnya, eco enzyme mengandung mikroorganisme baik yang dapat menekan perkembangan bakteri penyebab pencemaran sehingga kualitas air meningkat secara bertahap.

"Harapannya parit tidak lagi berbau, kadar oksigen meningkat, dan kondisi badan air menjadi lebih baik," jelasnya.

Ia mengungkapkan Pontianak menjadi daerah ketiga di Indonesia yang menerapkan penaburan eco enzyme secara massal setelah Bali dan kawasan Cisadane.

Sebanyak 1.900 liter eco enzyme berhasil diproduksi melalui keterlibatan para pelajar yang sebelumnya mendapat pelatihan pembuatan eco enzyme. Jika hasil evaluasi menunjukkan dampak positif, program tersebut akan diperluas ke seluruh enam kecamatan di Kota Pontianak.

DLH juga telah mengambil sampel air sebelum penaburan dan akan kembali melakukan pengujian sekitar satu bulan mendatang untuk mengukur efektivitas program terhadap peningkatan kualitas air.

Salah seorang peserta, Yaya Ditami, siswi kelas XI SMKN 1 Pontianak, mengaku bangga dapat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ia mengatakan telah ikut membuat eco enzyme di sekolah dan berharap gerakan ini dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.

"Kita harus bersama-sama menjaga parit dan lingkungan agar tetap bersih. Jangan membuang sampah sembarangan karena lingkungan yang bersih akan memberikan manfaat bagi semua," ujarnya. (Prokopim/Kominfo)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak