Terminal Kijing Resmi Layani Ekspor Internasional

Provinsi Kalimantan Barat memasuki babak baru dalam penguatan sektor logistik dan perdagangan internasional dengan dimulainya layanan ekspor peti kemas melalui Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah. Pelepasan ekspor perdana tersebut dilakukan langsung oleh Gubernur Kalimantan Barat, Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H., Senin (29/6/2026).

Peresmian ekspor perdana ini menjadi tonggak beroperasinya Terminal Kijing sebagai pelabuhan yang melayani ekspor peti kemas langsung ke pasar internasional, sekaligus memperkuat konektivitas perdagangan Kalimantan Barat dengan berbagai negara tujuan.

Dalam sambutannya, Gubernur Ria Norsan mengapresiasi PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Pulau Laut Line, serta seluruh pihak yang telah berkolaborasi mewujudkan operasional Terminal Kijing sebagai pelabuhan ekspor internasional.

Menurutnya, keberadaan pelabuhan ini akan memangkas rantai distribusi, meningkatkan efisiensi logistik, serta memperkuat daya saing komoditas unggulan Kalimantan Barat di pasar global.

"Beroperasinya Terminal Kijing sebagai pintu ekspor langsung akan membuat rantai logistik lebih singkat, biaya distribusi lebih efisien, dan daya saing produk daerah semakin meningkat," ujar Ria Norsan.

Selama ini, sebagian besar komoditas ekspor Kalimantan Barat masih harus melalui pelabuhan di luar provinsi. Kondisi tersebut berdampak pada tingginya biaya logistik dan lamanya waktu pengiriman. Dengan beroperasinya Terminal Kijing, proses ekspor diharapkan menjadi lebih cepat, efisien, dan kompetitif.

Momentum ini juga melengkapi penguatan konektivitas Kalimantan Barat yang sebelumnya ditandai dengan dibukanya penerbangan internasional perdana rute Singapura–Pontianak–Singapura oleh Scoot Airlines. Sinergi konektivitas udara dan laut tersebut diyakini akan semakin memperluas akses perdagangan dan investasi.

Kalimantan Barat memiliki potensi ekspor yang besar, mulai dari crude palm oil (CPO) beserta turunannya, karet, kelapa, kakao, hasil perikanan, produk kehutanan, alumina, hingga berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Gubernur berharap Terminal Kijing mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Terminal Kijing harus menjadi penggerak ekonomi Kalimantan Barat. Ketika biaya logistik semakin rendah, investasi akan tumbuh, lapangan kerja bertambah, dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat," katanya.

Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari Pelindo, Bea Cukai, Karantina, Imigrasi, operator pelayaran hingga pelaku usaha, untuk terus memperkuat kolaborasi dalam mendukung operasional pelabuhan.

"Mari bersama-sama menjadikan Terminal Kijing sebagai hub logistik modern yang efisien, aman, dan berdaya saing sehingga mampu menjadi gerbang perdagangan internasional Kalimantan Barat," tegasnya.

Sementara itu, CEO PT Pulau Laut Line, Welter Ong, mengatakan pihaknya memilih membuka layanan di Terminal Kijing karena melihat potensi besar serta kesiapan infrastruktur yang dimiliki pelabuhan tersebut.

Menurutnya, Terminal Kijing memiliki fasilitas modern yang mampu melayani kapal berkapasitas besar untuk pelayaran internasional sehingga sangat mendukung pengembangan layanan peti kemas ekspor.

"Terminal Kijing dirancang untuk kapal yang lebih besar dan pelayaran internasional. Kami fokus pada kargo internasional dan layanan feeder," ujarnya.

Ia optimistis semakin banyak perusahaan pelayaran internasional akan bergabung melayani rute melalui Terminal Kijing.

Ekspor perdana melalui Terminal Kijing mencatatkan nilai sebesar USD1.206.388,36 atau sekitar Rp21,49 miliar. Operasional tersebut diproyeksikan mampu menekan biaya transportasi, mempercepat distribusi barang, serta meningkatkan daya saing produk ekspor Kalimantan Barat.

Dalam ekspor perdana ini, PT Indonesia Chemical Alumina mengirimkan 150 kontainer 20 feet berisi alumina ke Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan. PT Borneo Alumina Indonesia mengekspor 12 kontainer Alumina Hydroxide, PT Unicoc Industries Indonesia mengirimkan dua kontainer desiccated coconut ke Pasir Gudang, Malaysia, sedangkan PT Ferrindo mengekspor 10 kontainer kelapa bulat menuju Yangpu, Tiongkok.

Untuk mendukung distribusi, Terminal Kijing menerapkan dua pola pelayaran, yakni Direct Call menuju Pasir Gudang, Malaysia, serta Transshipment melalui Pasir Gudang sebelum diteruskan ke Yangpu, Tiongkok, dan sejumlah negara tujuan lainnya di kawasan Asia.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat optimistis operasional layanan ekspor internasional melalui Terminal Kijing akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperkuat daya saing produk lokal, sekaligus meneguhkan posisi Kalimantan Barat sebagai salah satu pusat perdagangan dan logistik di kawasan barat Indonesia. (rfa/ica) (Adpim Prov Kalbar) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak