Sebanyak 60 personel BKO Korps Brimob diterjunkan ke Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kehadiran pasukan tambahan ini diharapkan mampu mempercepat respons terhadap kebakaran, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Namun, upaya pemadaman masih menghadapi tantangan serius. Kemarau yang terjadi saat ini menyebabkan ketersediaan sumber air di sejumlah lokasi semakin terbatas.
Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia menerima langsung kedatangan 60 personel BKO dalam apel penerimaan yang berlangsung di halaman Polsek Sungai Raya, Jalan Adisucipto Km 12,8, Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Selasa (25/8/2026) sekitar pukul 15.45 WIB.
Puluhan personel tersebut merupakan bagian dari Operasi Aman Nusa yang berasal dari Mako Brimob Pelopor dan Brimobda Polda Bali. Mereka akan memperkuat jajaran Polres Kubu Raya dalam menghadapi potensi maupun kejadian karhutla di sejumlah wilayah.
Rensa menyampaikan apresiasi atas dukungan personel BKO tersebut. Menurutnya, tambahan kekuatan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kecepatan dan efektivitas penanganan di lapangan.
“Kami menyambut baik dan mengucapkan terima kasih atas dukungan serta bantuan rekan-rekan personel BKO Korps Brimob dalam membantu pelaksanaan tugas penanggulangan karhutla di wilayah Kabupaten Kubu Raya,” kata Rensa.
Sebanyak 60 personel tersebut nantinya dibagi menjadi empat regu. Penempatan dilakukan berdasarkan kebutuhan serta perkembangan tingkat kerawanan karhutla di masing-masing wilayah.
Beberapa personel akan diperkuat di wilayah hukum Polsek Sungai Raya dan Polsek Sungai Kakap. Sementara teknis pengerahan pasukan akan dikoordinasikan dengan personel Polres Kubu Raya agar kekuatan yang tersedia dapat digerakkan sesuai kondisi di lapangan.
“Personel BKO akan dibagi menjadi empat regu dan ditempatkan sesuai kebutuhan di titik-titik wilayah rawan karhutla, di antaranya wilayah Polsek Sungai Raya dan Polsek Sungai Kakap. Teknis penugasan akan dikoordinasikan bersama personel Polres Kubu Raya,” ujarnya.
Meski tambahan personel memperkuat kemampuan penanganan, kondisi di lapangan masih tidak mudah. Salah satu kendala utama yang dihadapi petugas adalah minimnya sumber air akibat kemarau.
Keterbatasan tersebut berdampak langsung terhadap proses pemadaman. Petugas harus mencari sumber air yang masih tersedia ketika menghadapi titik kebakaran yang lokasinya cukup jauh dari sumber air.
“Kendala yang kami hadapi saat ini adalah sumber air yang sangat minim akibat kemarau. Kondisi ini cukup menyulitkan personel dalam melakukan pemadaman di lapangan,” ujar Rensa.
Minimnya air membuat penanganan kebakaran membutuhkan tenaga dan waktu lebih besar. Strategi pemadaman pun harus disesuaikan dengan kondisi medan serta ketersediaan sumber air di sekitar lokasi.
Dalam situasi tersebut, koordinasi antarpersonel menjadi faktor penting. Setiap regu harus mampu bergerak secara terarah agar penanganan api dapat dilakukan secara maksimal dan tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Rensa berharap keberadaan personel BKO tidak sekadar menambah jumlah kekuatan, tetapi juga meningkatkan kecepatan respons ketika kebakaran terjadi di wilayah rawan.
“Kami berharap selama pelaksanaan tugas dapat terjalin koordinasi, komunikasi, dan kerja sama yang baik demi optimalnya penanganan karhutla di wilayah hukum Polres Kubu Raya,” katanya.
Kapolres juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam proses penerimaan maupun pelayanan selama personel BKO berada di wilayah hukum Polres Kubu Raya masih terdapat kekurangan.
Pengerahan 60 personel Brimob tersebut merupakan bagian dari dukungan operasional penanggulangan karhutla di wilayah hukum Polda Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Kubu Raya.
Penugasan itu berdasarkan Surat Perintah Komandan Pasukan Brimob II Korbrimob Nomor Sprin/585/VIII/OPS.2.1/2026 tanggal 23 Agustus 2026 tentang Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di wilayah hukum Polda Kalimantan Barat. Surat perintah tersebut berlaku hingga 30 September 2026.
Dengan tambahan kekuatan tersebut, Polres Kubu Raya diharapkan semakin siap menghadapi ancaman karhutla, khususnya di kawasan yang memiliki lahan gambut dan berpotensi kembali terbakar ketika cuaca panas serta curah hujan masih rendah.
Bagi petugas di lapangan, tantangan penanganan karhutla saat ini bukan hanya menyangkut jumlah personel. Ketersediaan sumber air menjadi faktor penting yang turut menentukan kecepatan dan keberhasilan pengendalian api. (Humas Polres Kubu Raya)
