Peringatan Hari Bumi menjadi momentum tahunan yang mengajak masyarakat dunia untuk kembali menaruh perhatian pada kondisi lingkungan dan kelestarian alam. Diperingati setiap tanggal 22 April, Hari Bumi bukan sekadar seremoni, tetapi pengingat penting bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung pada keseimbangan ekosistem, hutan, air, udara, dan sumber daya alam yang terjaga dengan baik.
Semangat tersebut tergambar dalam Peringatan Hari Bumi Tahun 2026 yang mengusung tema “Our Power, Our Planet” atau “Kekuatan Kita, Planet Kita”, yang digelar di Hotel Golden Tulip Pontianak, Jumat (24/4/2026).
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat (Wagub Kalbar), Krisantus Kurniawan, S.IP., M.Si., ditandai dengan pemukulan gong sebagai simbol dimulainya rangkaian peringatan dan penguatan komitmen bersama menjaga lingkungan hidup.
Dalam kesempatan ini, Wagub menyampaikan bahwa persoalan lingkungan saat ini menjadi tantangan besar yang memerlukan perhatian seluruh pihak. Ia mengapresiasi konsistensi para pegiat lingkungan dan pecinta hutan yang terus menjaga kelestarian alam di tengah berbagai tekanan pembangunan dan investasi.
“Kegiatan seperti ini sangat penting dan saya mengapresiasi karena dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak boleh berhenti, kita harus terus memberikan semangat kepada saudara-saudara kita yang selama ini berjuang menjaga hutan dan alam,” ucapnya.
Dikatakannya, Provinsi Kalimantan Barat memiliki kekayaan hutan yang sangat besar, namun luas kawasan hutan terus menghadapi ancaman akibat aktivitas yang tidak terkendali. Karena itu, pemerintah daerah ingin memastikan pembangunan tetap berjalan tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan.
“Investasi memang penting, tetapi jangan sampai merusak hutan dan lingkungan. Kita harus mengendalikan investasi agar tidak menimbulkan dampak yang merugikan alam, Kalbar tidak boleh kehilangan lebih banyak hutan lagi,” tuturnya.
Wagub menilai, kelestarian hutan bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat. Berbagai hasil hutan dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi apabila dikelola secara kreatif dan berkelanjutan.
“Hasil hutan kita sangat bermanfaat, jika masyarakat kreatif dan inovatif, banyak potensi alam yang bisa diolah menjadi sumber ekonomi keluarga. Jadi menjaga hutan bukan berarti menghambat ekonomi, justru bisa memperkuat kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Ia mengingatkan perubahan kondisi lingkungan kini semakin nyata dirasakan masyarakat, termasuk meningkatnya suhu udara di perkotaan dan frekuensi bencana yang lebih sering terjadi.
“Kita bisa merasakan sendiri sekarang suhu di Pontianak semakin panas. Dulu suhu rata-rata sekitar 29 atau 30 derajat, sekarang bisa mencapai 34 hingga 36 derajat. Ini tanda bahwa lingkungan sedang mengalami perubahan,” pungkasnya.
Krisantus menyebut, meningkatnya banjir, kebakaran hutan, hingga perubahan cuaca ekstrem merupakan sinyal bahwa alam membutuhkan perhatian lebih serius.
“Dulu banjir tidak sesering sekarang, kebakaran juga jarang terjadi. Hari ini berbagai bencana mulai sering kita rasakan, ini menjadi pengingat bahwa kita harus lebih peduli terhadap lingkungan,” tambahnya.
Ia menuturkan bahwa perusahaan maupun pelaku usaha harus memiliki tanggung jawab terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas investasi.
“Setiap perusahaan harus menjaga lingkungan dan mengendalikan dampak yang ditimbulkan. Lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama,” tuturnya.
Selain itu, Wagub mengajak masyarakat untuk tidak hanya menjaga kawasan hutan yang masih ada, tetapi mulai melakukan langkah pemulihan melalui penghijauan dan penanaman kembali.
“Yang masih lestari harus kita pertahankan, jangan sampai terus berkurang, kalau bisa, kita tambah lagi melalui penanaman kembali agar hutan kita semakin luas dan tetap menjadi warisan untuk generasi mendatang,” tutupnya.
Sementara itu, Direktur Pranaya, Rahmawati, S.Hut., Rahmawati mengatakan bahwa peringatan Hari Bumi tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga ruang edukasi untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup secara berkelanjutan.
“Melalui momentum Hari Bumi, kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan di sekitar. Perubahan iklim, kerusakan hutan, hingga pencemaran menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama,” ucap Rahmawati.
Ia menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem, terutama di Kalimantan Barat yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan kawasan hutan yang luas.
“Kalbar memiliki peran penting sebagai daerah penyangga ekologis. Karena itu, menjaga hutan dan lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama antara masyarakat, dunia usaha, akademisi, media, dan generasi muda,” katanya.
Dirinya berharap peringatan Hari Bumi Tahun 2026 mampu mendorong lahirnya aksi nyata di tingkat masyarakat, mulai dari pengurangan sampah, penanaman pohon, hingga pelestarian kawasan hijau.
“Kesadaran lingkungan harus dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Jika dilakukan bersama-sama, dampaknya akan besar bagi keberlanjutan bumi dan kualitas hidup generasi mendatang,” tutupnya.
Usai membuka kegiatan, Wagub Kalbar bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalbar serta para narasumber meninjau pameran produk hasil hutan dan dokumentasi mengenai kekayaan alam serta upaya pelestarian lingkungan di Kalimantan Barat.(wnd/nzr) (Admin Prov Kalbar)

