Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, S.IP., M.Si., menghadiri Wisuda Universitas Terbuka (UT) Pontianak yang berlangsung di Qubu Resort, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (15/8/2026).
Dalam prosesi tersebut, sebanyak 763 wisudawan dan wisudawati dari berbagai fakultas resmi menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar akademik. Krisantus turut hadir dengan mengenakan toga kehormatan akademik.
Prosesi wisuda dibuka Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., bersama jajaran UT Pontianak.
Dalam sambutannya, Krisantus menegaskan bahwa wisuda bukan sekadar seremoni akademik, melainkan momentum lahirnya sumber daya manusia yang diharapkan mampu mengambil peran dalam pembangunan daerah, bangsa, dan negara.
“Pada hari ini kita tidak hanya melihat toga dan senyum bahagia para lulusan. Saya melihat masa depan Kalbar yang sedang dipersiapkan untuk mengambil peran penting dalam pembangunan daerah, bangsa, dan negara,” ujarnya.
Menurut Krisantus, keberhasilan menyelesaikan pendidikan merupakan hasil dari ketekunan, kemandirian, dan keyakinan bahwa pendidikan dapat membawa perubahan dalam kehidupan.
Ia menilai tema wisuda, “Bersama UT Menjangkau Tanpa Batas”, sangat relevan dengan kondisi Kalimantan Barat yang memiliki wilayah luas dan karakter geografis beragam. Pemerataan akses pendidikan, katanya, menjadi salah satu bagian penting dalam menjawab tantangan pembangunan daerah.
“Kalbar merupakan provinsi yang sangat luas. Kondisi geografis kita menghadirkan tantangan tersendiri dalam pemerataan pembangunan, termasuk dalam memberikan akses pendidikan kepada seluruh masyarakat,” jelasnya.
Krisantus juga mengapresiasi peran UT dalam membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menempuh pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan pekerjaan maupun daerah asal.
Menurutnya, di tengah pembangunan konektivitas fisik yang terus dilakukan, konektivitas digital perlu dimanfaatkan untuk mempercepat pemerataan kesempatan belajar.
“Kita tidak boleh menunggu. Kita harus bergerak sekarang. Ketika konektivitas fisik masih terus kita bangun, maka konektivitas digital harus menjadi jembatan yang mempercepat pemerataan kesempatan belajar bagi seluruh masyarakat Kalimantan Barat,” tegasnya.
Ia menambahkan, pembangunan tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur fisik, tetapi juga pembangunan manusia melalui perluasan akses pengetahuan, literasi digital, dan kesempatan belajar.
“Kita ingin semakin banyak anak-anak Kalbar yang dapat menjadi sarjana tanpa harus meninggalkan pengabdian mereka di daerah asal. Terutama anak-anak di desa, kawasan perbatasan dan wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses pendidikan,” tuturnya.
Krisantus berharap para lulusan tidak menjadikan gelar akademik sebagai pencapaian pribadi semata. Ia mendorong para sarjana untuk membawa ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan dan mengimplementasikannya bagi masyarakat.
“Seorang sarjana yang lahir dari sebuah desa adalah lentera baru bagi masyarakatnya. Kehadiran saudara-saudara dapat memperkuat tata kelola pemerintahan desa, meningkatkan produktivitas ekonomi lokal, memperluas literasi masyarakat dan menghadirkan inovasi yang dibutuhkan daerah,” ujarnya.
Selain kompetensi akademik, Krisantus mengingatkan pentingnya karakter dan integritas. Menurutnya, pembangunan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga jujur, disiplin, adaptif, dan memiliki kepedulian sosial.
Ia juga meminta para lulusan menggunakan teknologi digital secara bijak. Teknologi, katanya, harus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, pengetahuan, dan kualitas sumber daya manusia, sekaligus dibarengi literasi digital agar masyarakat mampu menghindari hoaks, penipuan, perjudian, serta konten provokatif.
“Jadilah agen perubahan di lingkungan saudara. Jangan biarkan keterbatasan geografis membatasi cita-cita dan kontribusi saudara. Jadikan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk memecahkan persoalan masyarakat,” pesannya.
Sementara itu, Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., mengatakan lulusan UT memiliki keunggulan karena selama menjalani pendidikan mereka dituntut untuk mengembangkan kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam belajar.
Ali menyebut pengalaman Krisantus sebagai alumni UT turut menggambarkan perkembangan sistem pendidikan UT dari waktu ke waktu. Saat menempuh pendidikan pada 1993, proses pembelajaran masih banyak mengandalkan modul. Kini, UT telah bertransformasi melalui penerapan open, distance and digital learning.
“UT hari ini sudah menggunakan platform digital dalam hampir seluruh proses bisnisnya. Mulai dari pembelajaran, tutorial hingga pelaksanaan ujian terus kami kembangkan dengan memanfaatkan teknologi,” jelasnya.
Menurut Ali, salah satu tantangan pendidikan tinggi di Indonesia adalah aksesibilitas. Karena itu, UT terus berupaya menghadirkan pendidikan tinggi yang dapat dijangkau masyarakat tanpa mengharuskan mahasiswa meninggalkan pekerjaan maupun tempat tinggal.
“UT tidak memaksa mahasiswa datang ke kampus, meninggalkan pekerjaan dan komitmen sosialnya. Justru kami membawa perangkat pendidikan mendatangi mahasiswa, di mana pun mereka berada,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa pendidikan di UT tidak berhenti pada pemberian gelar, tetapi harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, mahasiswa dan alumni terus didorong agar mampu berkontribusi di lingkungan masing-masing.
“Bekal pembelajaran hidup melalui UT, yaitu belajar mandiri, disiplin dan bertanggung jawab, harus ditularkan kepada masyarakat. Para wisudawan harus menjadi teladan dan ikut meyakinkan bangsa ini bahwa kita mampu,” pungkasnya.
Wisuda UT Pontianak menjadi momentum bagi ratusan lulusan untuk melanjutkan pengabdian dan memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berharap para lulusan dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus mendukung percepatan pembangunan daerah. (wnd/ica) (Adpim Prov Kalbar)
